
Menikmati Musim Panas dengan Kembang Api Tradisional Jepang (senko hanabi)
Budaya menikmati kembang api telah sangat meresap dalam Masyarakat Jepang. Pada musim panas, festival kembang api diselenggarakan di berbagai wilayah di seluruh negeri, bahkan setiap keluarga dapat menikmati kembang api di halaman rumah mereka sendiri atau di taman.
Di antara berbagai jenis kembang api tangan, “senko hanabi (kembang api kawat)” adalah salah satu kembang api tradisional yang telah dinikmati sebagai simbol musim panas di Jepang sejak periode Edo.
Selain kesederhanaan menikmati pemandangan percikan apinya, ada juga cara bermain dengan memperlombakan siapa yang dapat bertahan paling lama tanpa membiarkan apinya padam, atau tantangan untuk tidak menjatuhkan bola apinya sampai padam. Waktu pembakaran kembang api itu sendiri rata-rata sekitar 40 detik. Kembang api produksi Tiongkok yang dapat dibeli di supermarket atau minimarket cenderung lebih singkat, sementara produksi domestik Jepang biasanya bertahan lebih lama.
Di Jepang Barat, “senko hanabi” berbahan dasar jerami yang disebut “Subote botan” telah populer di daerah-daerah penghasil beras. Sebaliknya, di Jepang Timur, “Nagate botan” yang terbuat dari kertas dikembangkan karena industri pembuatan kertas berkembang pesat di wilayah timur. Sebagai informasi, “Subote botan” menggunakan perekat yang berubah oleh temperatur. Sehingga terkait dengan proses pengeringannya, kembang api ini hanya dapat diproduksi pada bulan Januari hingga Maret di musim dingin pada hari-hari cerah dengan kelembapan rendah.
Cara pembakarannya memiliki beberapa tahapan, dimana setiap tahapnya memiliki istilah tersendiri. Fenomena perubahan kondisi yang terjadi akibat perubahan temperature tersebut membuat orang Jepang menganggapnya sebagai sinopsis dari perjalanan hidup manusia yang singkat.

1.Botan (Masa Kanak-kanak):
Sesaat setelah dinyalakan, muncul bola api bulat dan mengembang seperti bunga peony yang bergetar halus. Tahapan ini melambangkan awal kehidupan atau masa penuh gairah dalam kehidupan.
2.Matsuba (Masa Remaja/Dewasa Muda):
Tak lama kemudian, terdengar suara “pachi-pachi”, dan bunga api yang besar memancar kuat serta bercabang-cabang halus seperti daun pinus. Tahapan ini menggambarkan masa kejayaan dalam hidup, saat situasi seseorang berada dalam periode yang stabil dan penuh semangat.
3.Yanagi (Masa Paruh Baya):
Suara bunga api mulai mereda, dan percikan apinya memanjang, selanjutnya menjadi lembut dan melengkung ke bawah seperti cabang pohon willow. Tahapan ini melambangkan ketenangan dan kebijaksanaan yang bertambah seiring kedewasaan dan kematangan dalam hidup.
4.Chirikiku (Masa Tua):
Percikan api kecil berjatuhan dengan tenang seperti kelopak bunga krisan yang berguguran, sampai akhirnya bola api pun padam. Tahapan ini menggambarkan akhir kehidupan dan kefanaan yang menyertainya.
Sejarah “senko hanabi” (kembang api batang tradisional Jepang)” dapat ditelusuri hingga zaman Edo. Pada awal periode Edo, sebuah toko kembang api bernama “Kagiya” disebutkan mulai membuat kembang api mainan dengan memasukkan bubuk mesiu ke dalam batang jerami.
Dalam sebuah lukisan yang dibuat sekitar 300 tahun lalu tepatnya pada tahun 1748, terlihat perempuan-perempuan sedang bermain kembang api yang ditegakkan seperti dupa. Pada masa itu, kembang api yang disebut “Subote”, yaitu kembang api dengan bubuk mesiu di ujung jerami dinikmati dengan cara ditancapkan pada “kouro” (tempat dupa). Cara menikmati seperti ini menjadi asal-usul nama “senko hanabi”, yang secara harfiah berarti “kembang api dupa”.

Pada beberapa waktu sebelumnya, impor “senko hanabi” produksi Tiongkok yang murah sempat menyebabkan penurunan produksi barang domestik. Namun, saat ini telah muncul gerakan untuk menghidupkan kembali “senko hanabi” produksi dalam negeri, antara lain di Prefektur Aichi dan Tokyo.
Bagaimana kalau Anda mencoba membeli “senko hanabi” produk Jepang sebagai oleh-oleh?
Profile
- Karena memburuknya waktu, masalah muncul di sana-sini dan saya saat ini berada di rumah sakit. Kecepatan berjalan 5km/jam
Latest entries
Lifestyle2026.04.13Menikmati Musim Panas dengan Kembang Api Tradisional Jepang (senko hanabi)
Lifestyle2026.01.26Nuansa Jepang dalam Film “Samurai Time Slipper/ A samurai in time”
Food2025.12.17Bumbu yang Dicintai Masyarakat Jepang: “Shichimi Togarashi”
Lifestyle2025.12.15Film “Love Letter” yang Menyuguhkan Pemandangan Musim Dingin yang Indah












