Berkunjung ke Tokyo Dome City Hall, Bag.2

Desember 2023, Tokyo Dome City Hall menjadi panggung yang mempersembahkan episode keempat dari pertunjukan live “Kimetsu no Yaiba: Yuukaku Sennyuu”. Kursi balkon baris pertama menjadi tempat yang sempurna untuk menyaksikan acara ini. “Kimetsu no Yaiba” adalah serial komik populer yang diterbitkan setiap minggu di majalah “Weekly Shonen Jump” dari Februari 2016 hingga Mei 2020 dengan total 23 volume. Film “Kimetsu no Yaiba: Mugenressha” yang dirilis pada 2020 mencatatkan rekor box-office terbesar dalam sejarah perfilman Jepang, mengalahkan film-film legendaris seperti “Spirited Away” dan “Your Name”.

Pertunjukan live pertama “Kimetsu no Yaiba” dipentaskan pada tahun 2020, disusul oleh edisi kedua “Kizuna” pada 2021, edisi ketiga “Mugenressha” pada 2022, dan kini edisi keempat “Yuukaku Sennyuu” di Tokyo Dome City Hall. “Yuukaku Sennyuu” mengadaptasi cerita dari volume 8 hingga 11, melanjutkan kisah setelah seri “Mugenressha”. Pertunjukan ini dikenal dengan penampilannya yang memukau, set yang rumit, dan efek visual yang spektakuler.

Berbeda dengan banyak teater yang melarang pengambilan foto, pertunjukan ini memperbolehkan pengambilan foto dari saat memasuki ruang teater hingga lima menit sebelum pementasan dimulai. Meskipun begitu, hasil foto yang diambil seringkali tidak memuaskan.

Sepuluh menit sebelum pementasan dimulai, panggung menampilkan para pemeran yang berjalan di area yang disetting sebagai tempat pelacuran lengkap dengan pemeran para calo. Harapan tinggi bahwa pementasan segera dimulai terjawab ketika lampu perlahan-lahan meredup.

Pertunjukan dibagi menjadi dua bagian: cerita Daki dan setelah istirahat sebentar, cerita Gyutaro. Total durasi sekitar 2 jam 50 menit. Pergantian setting berlangsung cepat, mencerminkan kesetiaan pada cerita asli komik. Adegan kilas balik dan perubahan setting dilakukan dengan sangat lancar, membuat penonton hampir tidak merasakan adanya jeda. Salah satu aspek menarik adalah penggunaan teknologi canggih untuk mempercepat transisi set dan pencahayaan yang dinamis, memberikan pengalaman teater yang immersive.

Pada awal pertunjukan, panggung memperlihatkan para pekerja seks yang sedang beres-beres. Setting panggung berubah dinamis, dari atap, bagian dalam kamar, koridor, hingga bagian luar toko, semuanya digerakkan secara manual. Keahlian para kru panggung dalam melakukan perubahan ini menjadi daya tarik tersendiri. Dua iblis bersaudara, Daki dan Gyutaro, diperankan dengan sangat baik, mendekati kesempurnaan karakter dalam komiknya.

Seri keempat ini banyak mengekspresikan adegannya melalui nyanyian. Gyutaro dan Daki bernyanyi dan berakting dengan sangat baik. Pemeran Daki, Rina Satake, dan Gyutaro, Yusuke Tohyama, menunjukkan keahlian mereka dalam drama musikal. Pementasan “Yuukaku Sennyuu” menjadi penampilan pertama Rina Satake dalam karya pertunjukan 2.5 dimensi. Akting, nyanyian, dan penampilan mereka sangat bagus, sesuai dengan referensi komik aslinya. Fakta menarik lainnya adalah popularitas pertunjukan ini yang selalu berhasil menarik penonton dari berbagai kalangan, mulai dari penggemar anime, manga, hingga pencinta teater tradisional Jepang.

Adegan perkelahian dengan iblis juga menjadi sorotan utama. Daki menggunakan obi (sabuk kimono) dan Gyutaro menggunakan chigama (clurit darah) dalam pertarungan. Adegan ini dilengkapi dengan gambar dan penerangan yang dinamis, serta kehadiran kurogo, staf yang mengenakan jubah hitam untuk menggerakkan peralatan panggung. Para penonton di Jepang sudah terbiasa mengabaikan keberadaan kurogo di panggung, mengikuti aturan bahwa warna hitam tidak terlihat. Kurogo dalam pertunjukan ini memainkan peran penting dalam memastikan transisi yang mulus antara adegan dan meningkatkan realisme aksi di panggung.

Salah satu adegan paling mengesankan adalah ketika Inosuke memenggal kepala Daki. Inosuke berteriak kepada penonton, “Ini adalah kepala Daki, badannya tidak ada ya”, dan kemudian berlari sambil membawa kepala Daki. Improvisasi ini menambah keseruan dan membuat suasana lebih hidup. Inosuke, yang diperankan oleh Yugo Sato, menunjukkan kemiripan dengan karakter di komik, terutama ketika berganti dari pakaian wanita ke pakaian biasa dengan topeng babinya.

Pertunjukan mencapai puncaknya ketika Daki dan Gyutaro, iblis tingkat atas, dikalahkan. Kibutsuji Muzan, Raja Iblis, tampil dengan nyanyian dingin dan suram, diperankan oleh Yoshihide Sasaki. Meski tampil sebentar, suaranya yang menakutkan menggambarkan kekuatan Raja Iblis.

Pada curtain call, semua pemeran kembali ke panggung untuk menerima tepuk tangan meriah dari penonton. Pengalaman menonton pertunjukan live “Kimetsu no Yaiba: Yuukaku Sennyuu” ini memberikan sesuatu yang indah, menunjukkan betapa luar biasanya pertunjukan teater Jepang dengan kombinasi akting, nyanyian, dan teknis panggung yang memukau. Selain itu, fakta bahwa pertunjukan ini terus berkembang dan menarik penonton baru setiap tahunnya membuktikan daya tarik dan kualitas produksi yang luar biasa.

Profile

soj_admin
Saya adalah administrator SOJ.
Kami menyajikan kepada Anda realitas kehidupan sehari-hari di Jepang.

Artikel terkait

  1. No comments yet.