
Berkunjung ke Taman Rikugien
Saya mengunjungi Taman Rikugien pada akhir pekan yang panas di bulan Juli setelah berakhirnya musim hujan. Taman Rikugien terletak di Distrik Bunkyo, Tokyo. Lokasinya dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 7 menit dari Stasiun Komagome (Jalur JR Yamanote dan Jalur Namboku nya Tokyo Metro), atau sekitar 10 menit berjalan kaki dari Stasiun Sengoku (Jalur Toei Mita) menuju gerbang utama. Harga tiket masuk untuk umum adalah 300 yen/per-orang. Untuk pengunjung berusia 65 tahun ke atas dikenakan biaya 150 yen, sedangkan anak-anak sekolah dasar ke bawah serta siswa sekolah menengah pertama yang tinggal atau bersekolah di Tokyo dapat masuk secara gratis.

Taman Rikugien adalah taman lanskap bergaya “kaiyu shiki (taman dengan jalurnya yang melingkar)” yang dibangun selama tujuh tahun di wilayah Komagome, yang diberikan kepada Yanagisawa Yoshiyasu, seorang pejabat kepercayaan Shogun Tokugawa Tsunayoshi yang merupakan Shogun kelima, pada tahun 1695 (tahun ke-8 periode Genroku). Taman ini merupakan salah satu dari dua taman besar pada zaman Edo, setaraf dengan Taman besar lainnya yaitu Koishikawa Korakuen. Nama “Rikugien” diambil dari “Rikugi” dalam karya sastra Tiongkok kuno, “Shikyou (Kitab Puisi)”. Pada masa Meiji, taman ini menjadi milik Iwasaki Yataro, pendiri Mitsubishi, dan pada tahun 1938 (tahun ke-13 periode Shōwa). Kemudian, taman ini disumbangkan kepada Kota Tokyo dan dibuka untuk umum. Pada tahun 1953 (tahun ke-28 periode Showa), taman ini ditetapkan sebagai Tempat Bersejarah Khusus oleh pemerintah Jepang.

Kali ini, Saya berkunjung untuk mengikuti lokakarya pembuatan “Edo Uchiwa”, yang merupakan salah satu kerajinan tradisional yang telah ada sejak zaman Edo. Lokakarya ini sangat populer, dan saya berhasil mendapatkan tempat untuk sesi siang hari. Setelah masuk ke dalam taman, saya membayar biaya partisipasi sebesar 2.500 yen (sekitar 250 ribu rupiah, biaya ini sudah termasuk satu set teh hijau dingin) di loket nomor 4, kemudian lanjut ke Shinsentei.

“Edo Uchiwa” atau kipas Edo menyebar luas sebagai “e uchiwa (kipas bergambar)” yang dihiasi dengan “ukiyo e (lukisan zaman Edo)” atau cetakan balok kayu yang memuat gambar-gambar seperti potret aktor kabuki, lukisan wanita cantik (bijin ga), dan pemandangan. Produksi massal menjadi memungkinkan berkat perkembangan teknik cetak kayu. Kemudian untuk menekan biaya produksi, kipas ini dibuat dengan membelah satu batang bambu untuk membentuk rangka kipas sekaligus gagangnya. Ini merupakan ciri khas utama dari “Edo uchiwa”. Pada periode Edo, kipas ini telah menjadi barang fesyen yang dinikmati oleh para wanita, dan merupakan aksesori penting dalam busana musim panas.

Pengajar dalam lokakarya ini adalah Ohta Mitsue, yang merupakan generasi keempat dari pembuat kipas uchiwa yaitu keluarga Ohtaya. Dia juga seorang pengrajin seni tradisional bersertifikat. Di atas meja tersedia pola cetak, gunting, pensil, spatula, kantong plastik, serta brosur tentang Boshu uchiwa. Kami juga diperlihatkan berbagai jenis uchiwa, termasuk Edo uchiwa (Boshu uchiwa) yang akan dibuat dalam lokakarya kali ini, serta uchiwa dari Kyoto, Nara, dan Marugame. Lokakarya sesi siang dimulai pukul 13.30. Dari 21 tahapan dalam proses pembuatan kipas uchiwa, kami akan mencoba tiga tahap, yaitu: ⑯ menempel (kertas belakang), ⑰ memotong, dan ⑱ memasang tepian. Di tengah ruangan, sang pengajar memperagakan proses pembuatannya secara langsung.
Setelah itu, masing-masing peserta diberikan rangka bambu yang sudah ditempeli kertas bagian belakang kipas. Tahap pertama adalah merapikan jarak antar tulang kipas dengan menggunakan spatula. Itu terlihat mudah, tetapi ternyata cukup sulit saat dicoba. Meskipun saya sudah mengatur jaraknya sebelum lem mengering, ternyata tulang-tulang bambunya terkadang kembali ke posisi semula tanpa disadari.
Setelah jarak antar tulang kipasnya dirapikan, selanjutnya adalah menempelkan kertas bagian depan. Kami memilih pola kertas yang disukai, kemudian kertas tersebut diberi lem di bagian belakangnya.
Dari sekitar sepuluh pola yang tersedia, saya memilih motif bunga hydrangea (ajisai) berwarna biru. Setelah kembali ke tempat duduk, saya kemudian menempelkan kertas ke bagian depan kipas dengan hati-hati agar tidak ada udara yang terperangkap, selanjutnya ditekan kuat-kuat dengan menggunakan seluruh telapak tangan.

Sambil menunggu lem mengering, pengajar kami, Ohta Mitsue, memperagakan proses “sakidake”, yaitu membelah bambu secara halus untuk dijadikan rangka kipas. Bagian dalam bambu yang berlebih dihilangkan/dikikis, kemudian bambu dibelah menjadi sekitar 40 hingga 60 potongan/bilah, bahkan terkadang dapat lebih jumlah tersebut.
Proses membelah bambu ini diperkenankan bagi para peserta yang berminat mencobanya secara langsung. Tentu saja, saya dan teman juga turut mencobanya. Membelah bambu itu ternyata tidak mudah karena setiap potongan harus memiliki ketebalan yang seragam, sehingga diperlukan pengaturan kekuatan tangan dan kecepatan yang tepat.
Sambil mengamati berbagai tahapan proses pembuatannya, seperti:
⑤ “sakitake (membelah bambu)” → ⑥ “momi (melenturkan bambu)” → ⑦ “ana ake (melubangi)” → ⑧ “sasara (menyusun anyaman)” → ⑨ “ezume (memasang gagang)” → ⑩ “yuge (melengkungkan bentuk)” → ⑪ “shitamado (membuat jendela bawah)” → ⑫ “mado tsukuri (membuat jendela)”
akhirnya lem pada kipas kami mengering. Sehingga tiba saatnya untuk proses “dansai” atau pemotongan.
Kami meletakkan pola cetak di atas kipas, lalu menggambar garis dengan menggunakan pensil. Setelah itu, kami memotong kertas dan tulang kipas sekaligus dengan gunting dengan potongan yang mengikuti garis tersebut.
Langkah berikutnya adalah “heritsuke”, yaitu menempelkan pinggiran. Ini adalah proses membingkai atau menempelkan “washi” (kertas khas Jepang) di sekeliling permukaan kipas untuk membingkai bagian yang telah dipotong. Kami menempelkan “washi” yang dipotong memanjang dan telah diberi lem, mulai dari tepian/ujungnya satu per satu untuk menutupi bagian pinggir potongan dengan rapi.
Bagian yang paling sulit adalah memastikan bahwa lebar bingkai di sisi depan dan belakang sama rata. Saya dapat memindahkan posisi kertas beberapa kali untuk memperbaikinya karena lemnya belum mengering. Akhirnya, kipas saya pun selesai!
Walaupun permukaan kipas agak bergelombang, saya senang karena hasilnya cukup bagus dan terlihat rapi!

Setelah menyelesaikan pembuatan kipas, saya menikmati teh matcha dingin dan kudapan “jou- namagashi (kue tradisional Jepang yang elegan)” di “Fukiage Chaya (rumah teh Fukiage)”. Angin yang berhembus terasa sangat menyegarkan karena lokasinya berada di tepi kolam. Kue “jou-namagashi” pada foto bagian atas berbentuk bunga “asagao (morning glory)”, sedangkan yang di foto bagian bawah berbentuk “Hotaru” atau kunang-kunang. Keduanya berisi “koshian (pasta kacang merah halus)” di dalamnya. “Jou-namagashi” yang manisnya lembut dan elegan ini benar-benar lezat. Terima kasih atas hidangannya!

Saat ini, Taman Rikugien dipenuhi oleh hijaunya pepohonan. Walaupun saat musim gugur tiba, daun-daunnya berubah warna dan menciptakan pemandangan yang sangat indah. Konon, ada juga acara khusus berupa pertunjukan pencahayaan malam yang diadakan dalam waktu terbatas. Jika ada kesempatan, bagaimana jika Anda datang dan menikmati suasana Taman Rikugien yang begitu mempesona, sehingga tidak merasa seperti sedang berada di tengah kota Tokyo?
Profile
-
Saya suka roti melon.
Saya menulis artikel berdasarkan keinginan hati saya, seperti mengunjungi museum, galeri seni, dan pertunjukan teater.
Latest entries
Travel2026.02.09Berkunjung ke Taman Rikugien
Travel2025.12.24Berkunjung ke Kebun Binatang Ueno
Travel2025.11.24Berkunjung ke Shinjuku Gyoen
Lifestyle2025.08.25Berkunjung ke Kuil Numabukuro Hikawa












