Berkunjung ke Kuil Numabukuro Hikawa

Pada akhir pekan yang cerah di bulan Februari, saya pergi ke Kuil Numabukuro Hikawa yang terletak di Numabukuro, Distrik Nakano Tokyo. Kuil Numabukuro Hikawa berjarak 2 menit berjalan kaki dari pintu keluar utara Stasiun Numaburuko, jalur Seibu-Shinjuku. Ketika berjalan kaki di sisi jalurnya, maka akan tampak kuil yang dipenuhi pohon hijau.

Kuil Numabukuro Hikawa ini memuja “Susanoo no Mikoto”. Dia adalah dewa yang berani dan perkasa, yang mengalahkan “Yamata no Orochi (ular raksasa)”. Dia juga dipercaya sebagai dewa yang melindungi manusia dari berbagai hal buruk. Konon, asal mula kuil ini berawal pada Zaman Nanboku-cho, yaitu saat “Wakemitama (roh suci yang terbagi)” diserahkan dari Kuil Omiya Shinza Hikawa yang terletak di wilayah Musashi (sekarang prefektur Saitama) ke Kuil Numabukuro. “Wakemitama” kemudian dipuja di Numabukuro pada masa pemerintahan Kaisar Go-Murakami, Era Shohei. Tampaknya kuil ini memiliki sejarah panjang lebih dari 650 tahun.
Pada hari saya datang berkunjung, cuacanya baik dan tampak warga sekitar yang sedang berbincang-bincang santai sambil duduk di bangku-bangku yang ditempatkan di beberapa lokasi halaman kuil. Mungkin ini adalah jalur jalan santai favorit mereka. Bersamaan dengan itu, tampaknya akan ada pernikahan di depan kuil. Karpet merah terbentang di atas jalan berbatu. Terlihat begitu khidmat.

Setelah berdoa di kuil utama, saya juga berdoa di “Tennosha”, kuil Inari, dan kuil Mitake yang terletak di halaman Kuil Numabukuro Hikawa. “Tennosha” merupakan kuil untuk memuja “Gozu Tenno” yang dianggap sama dengan “Susanoo no Mikoto” dalam agama Shinto. Tampaknya Kuil Inari di Kuil Numabukuro Hikawa dipuja bersama dengan Kuil Inari Okubo yang dahulu terletak di Nogata, distrik Nakano pada tahun ke-38 Zaman Showa, atau Tahun 1963. Kuil Mitake adalah kuil yang terbuat dari batu dan direnovasi pada awal Zaman Meiji, serta memiliki sejarah yang panjang. “Sanbon Negai Matsu” adalah pohon suci yang berada dekat dari anak kuil. Ini bukan tiga pohon pinus yang tumbuh di tempat yang sama, melainkan ada satu pohon di sisi kiri kuil dan dua pohon di sisi kanan kuil. Di sisi kiri kuil terdapat pohon pinus dengan papan penjelasan bertuliskan “Semoga hal buruk pergi (“sugi sare”), dan menunggu (“matsu”) harapan kami terjadi”. Intinya, konon jika berharap pada pohon Sugi, seseorang akan terhindar dari hal buruk, serta jika berharap kebahagiaan pada pohon Matsu, maka harapannya pasti terwujud. Saya pun ikut berharap sambil memegang pohon Matsu. Pohon Matsu yang berusia 650 tahun ini terasa sangat kokoh.

Selama konter jimat dan “goshuin (cap suci kuil)” ditutup karena ada acara pernikahan di depan kuil, saya menuju ke “Nakano Shichifukujin (dewa keberuntungan dalam kepercayaan Jepang)” yang terletak dekat dari pintu masuk halapan kuil. Tampaknya tempat ini adalah satu-satunya tempat untuk berdoa kepada “Shichifukujin” di distrik Nakano.

Dari sisi kiri, Bishamonten yaitu dewa kebijaksana, perlindungan dari epidemi dan bencana.
Benzaiten, dewa kesuksesan artistik dan kemakmuran bisnis.
Daikokuten, dewa kekayaan dan panen yang melimpah.
Ebisu, dewa kesuksesan bisnis, navigasi, dan penangkapan ikan.
Hotei, dewa keamanan keluarga dan keberuntungan finansial.
Fukurokuju, dewa keberuntungan dan umur panjang.
Jurojin, dewa umur panjang dan pemulihan dari penyakit.
Berkumpulnya “Shichifukujin” sungguh luar biasa!

Saya juga melihat “Chikara Ishi (batu kekuatan)” yang terletak di belakang “Chozuya/ tempat mencuci tangan”. Konon, “Chikara Ishi”“ ini digunakan untuk adu kekuatan oleh para pemuda, untuk kemudian dipersembahkan dengan mengukir nama mereka. Tampaknya, seorang penantang diakui sebagai orang dewasa (mandiri) jika dapat mengangkat batu yang lebih berat. Ada batu yang diukir “四拾八貫目余 (Yonjyu Hachi Kan Me Amari)”, dan jika mempertimbangkan 1貫目 (kan me) sama dengan 3.75 kg, maka berat batu ini ternyata sekitar 180 kg. Mungkin ada orang yang sangat kuat di sini!

Ketika saya kembali ke gedung kuil, konter jimat dan “goshuin” sudah buka. Saya membeli “ema (papan doa bergambar)” serta jimat.
Sebetulnya, saya baru tahu setelah berkunjung ke sini bahwa Kuil Numabukuro Hikawa adalah tempat suci untuk anime “Kimetsu no Yaiba” dan “Tokyo Revengers”. Ternyata, banyak orang membeli “goshuin” karena ini adalah tempat suci anime favorit mereka! Atau mungkin juga untuk teman-teman mereka?. Pemandangan orang-orang menerima “goshuin” tampak seolah-olah itu sangat berharga.
Apakah anda juga akan berkunjung Kuil Numabukuro Hikawa?. Suasana kuil yang tenang dan damai itu sangat menenangkan!

Profile

melon bread
melon bread
Saya suka roti melon.
Saya menulis artikel berdasarkan keinginan hati saya, seperti mengunjungi museum, galeri seni, dan pertunjukan teater.

Artikel terkait