Hubungan antara Budaya Vending Machine di Jepang dan Keamanan Publik: Perbandingan dengan Negara Lain

Ketika berjalan di kota-kota Jepang, Anda pasti menyadari bahwa vending machine terdapat di berbagai tempat.
Vending machine tidak hanya diletakkan di depan stasiun atau jalan pertokoan, bahkan sampai di pinggir perumahan dan tempat wisata yang terletak di dalam pegunungan.
Baru-baru ini, jenis vending machine menjadi semakin beragam. Sekarang terdapat juga vending machine yang tidak hanya menjual minuman, tetapi juga kue, mie instan, es krim, makanan segar, dan perlengkapan darurat.
Budaya vending machine tersebut tidak bisa dipisahkan dari “keamanan publik” di Jepang.
Dulu waktu saya di Inggris untuk belajar, vending machine umumnya dipasang di dalam ruangan, stasiun atau di mall. Hampir tidak ada vending machine yang dipasang di luar tempat tersebut. Ini mungkin karena risiko kerusakan dan pencurian akan meningkat jika vending machine dipasang di luar. Demikian juga di Indonesia sepertinya vending machine lebih banyak dipasang di dalam ruangan.
Di luar negeri, perusakan vending machine bukanlah hal yang jarang terjadi.
Ada banyak kasus di mana vending machine dibuka paksa untuk diambil uang atau produk di dalamnya.
Terutama yang menjadi sasarannya adalah vending machine yang menggunakan uang tunai. Itulah alasan tempat pemasangannya dibatasi.
Misalnya, vending machine di Amerika Serikat, banyak yang dipasangi CCTV (kamera pengawas) dan dikelilingi penutup dari besi.

Padahal vending machine yang biasanya dipasang ditempat seperti gang dan taman di Jepang, jarang sekali dirusak.
Ini sepertinya karena keamanan publik di Jepang dan kebiasaan yang sudah tertanam menjadi budaya orang Jepang utnuk menghargai barang publik.
Banyak orang Jepang memiliki pandangan seperti “jangan merusak barang orang lain” dan “jangan merepotkan orang lain”. Tampaknya pandangan itu membantu keamanan vending machine.
Belakangan perkembangan dan penyebaran vending machine di Jepang berkaitan tidak hanya dengan keamanan publik tetapi juga perkembangan teknologi dan permintaan pasar.

・Pertama, penguatan terhadap tindakan pencegahan kejahatan.

Belakangan ini, ada yang mengatakan bahwa keamanan di Jepang semakin buruk. Oleh karena itu, semakin banyak dipasang vending machine yang dilengkapi CCTV. Serta, straktur vending machine sendiri didesain kuat dan tidak dapat dibuka paksa dengan mudah.

・Kedua, perkembangan teknologi pembayaran non-tunai.

Sebelumnya terdapat kasus perusakan bagian masuk uang vending machine, tetapi dengan trend pembayaran dengan non-tunai saat ini, maka vending machine yang tidak menyimpan uang tunai makin banyak.
Vending machine yang dapat digunakan dengan kartu IC lalu lintas dan pembayaran kode QR (seperti QRIS) mengurangi risiko pencurian, serta meningkatkan kenyamanan bagi penggunanya.

・Ketiga, vending machine sebagai pendukung penanggulangan kondisi darurat

Karena Jepang adalah negara yang memiliki risiko mengalami kondisi darurat yang tinggi, maka baru-baru ini terdapat “vending machine yang mendukung penanggulangan kondisi darurat”. Pada waktu nomal semuanya dijual seperti halnya vending machine pada umumnya, tetapi pada saat mati lampu, maka vending machine ini dapat memberikan minuman gratis. Ini juga merupakan perkembangan yang unik di Jepang.

Perubahan kondisi vending machine di Indonesia

Dahulu jumlah vending machine di Indonesia masih sedikit, dan kalaupun ada biasanya dipasang dalam ruangan. Namun, belakangan ini, vending machine semakin banyak dipasang tidak hanya di mall atau di dalam gedung kantor, tetapi juga dipasang di berbagai stasiun dan area publik. Ini tampaknya merupakan dampak dari penyebaran pembayaran non-tunai dan perkembangan urbanisasi. Menurut saya, latar belakang mengapa vending machine masih jarang dipasang di sudut perumahan atau jalan gang adalah permasalahan keamanan publik di Indonesia.

Budaya vending machine yang unik di Jepang

Budaya vending machine di Jepang didukung oleh keamanan publik dan kesadaran sosial orang Jepang. Tampaknya, vending machine di luar negeri mengalami banyak kesulitan untuk dipasang di luar ruangan. Sementara itu, vending machine di Jepang terdapat diberbagai tempat bahkan di taman dan jalan. Perbedaan ini menjelaskan betapa amannya negeri Jepang, serta menggambarkan budaya dan nilai-nilai yang tertanam dalam masyarakatnya.

Mungkin di masa mendatang, budaya vending machine seperti di Jepang akan menyebar dengan perkembangan pembayaran non-tunai dan percegahan kejahatan. Namun, hal tersebut mungkin akan membutuhkan waktu sampai lingkungannya membaik seperti di Jepang supaya dapat menggunakan vending machine di mana-mana.
Vending machine berada pada berbagai kondisi dan lokasi itu menandakan akat sehat unik di Jepang yang didukung oleh keamanan publiknya.
Ngomong-ngomong, minuman dingin dan minuman panas dijual di satu tempat vending machine itu langka, itu adalah hasil dari perkembangan teknologi.
Kadang-kadang, vending machine di luar negeri tidak memiliki sampel produk (walaupun ada juga yang memasang logo produknya).
Karena kemasan produknya tidak diperlihatkan, maka orang yang tidak mengenal produknya akan menjadi bingung. Dalam hal ini, vending machine di Jepang memiliki sampel produk, sehingga orang-orang yang baru mengenal minumannya juga dapat menbayangkan rasa minumannya dengan mudah. Ini adalah keramahan unik di Jepang.

Profile

Chris·P·Bacon
Chris·P·Bacon
Lahir di Kamakura dan besar di Yokohama, dengan pengalaman tinggal di Inggris selama 6 tahun. Suka memodifikasi mobil, suka sepak bola, suka AKIRA, dan seorang ayah dari dua anak yang mendukung seorang aktris Korea. Motto sehari-harinya adalah "駑馬十駕(Meskipun seseorang kurang berbakat, dengan usaha keras dia dapat mengejar orang yang berbakat.)" dan penglihatannya adalah 2.0 dan 1.2 di mata kanan dan kiri. Klub sepak bola favoritnya adalah Liverpool dan ia mengagumi pemain seperti Eric Cantona dan Gattuso. Tinggal di daerah di luar 23 ku dari Tokyo, yang dikenal sebagai daerah pedesaan Tokyo.

Artikel terkait