{"id":3964,"date":"2026-08-17T09:30:00","date_gmt":"2026-08-17T00:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=3964"},"modified":"2026-06-03T13:20:51","modified_gmt":"2026-06-03T04:20:51","slug":"interesting-thing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/streetofjapan.com\/id\/2026\/08\/17\/interesting-thing\/","title":{"rendered":"Hal yang menarik"},"content":{"rendered":"\n<p>Pada sebuah acara televisi pagi beberapa hari yang lalu, dibahas mengenai pelafalan kata \u201cwakame (rumput laut)\u201d yang memiliki dua jenis aksen: pertama, pola \u201catamadaka gata\u201d yang memberi penekanan pada suku kata \u201cwa\u201d, dan kedua, pola \u201cnakadaka gata\u201d yang memberi penekanan pada suku kata \u201cka\u201d. Dalam bahasa Jepang standar klasik, yang dianggap tepat adalah pola kedua (nakadaka gata), tetapi belakangan ini pelafalan dengan pola pertama (atamadaka gata) semakin meluas dan menjadi umum digunakan. Karena itu, kini keduanya dianggap tepat, termasuk ketika dibacakan oleh penyiar berita.<br>(Sepertinya, meluasnya penggunaan pola \u201catamadaka gata\u201d juga dipengaruhi oleh karakter Wakame chan dari anime Sazae san)<br>Menarik sekali bahwa untuk satu kata saja bisa terdapat berbagai cara pengucapan, ditambah lagi adanya dialek daerah juga dapat menimbulkan sedikit perbedaan.<br>Saya sendiri lahir dan besar di Prefektur Aichi. Karena daerah asal saya letaknya agak lebih dekat ke wilayah Mikawa daripada Nagoya, maka dalam percakapan sehari-hari saya sering menggunakan dialek Mikawa yang dikenal dengan sebutan \u201cjan dara rin\u201d. Namun, di dalam keluarga saya, ayah berasal dari Kyoto dan ibu dari Iwate, sehingga saya tumbuh dalam lingkungan komunikasi lintas budaya yang bercampur dengan berbagai dialek.<br>Bahkan di antara anggota keluarga sendiri, sudah menjadi hal yang lumrah saat antara suami-istri maupun orang tua dan anak saling bertanya \u201cTadi maksudnya kata \u201cooo\u201d itu apa?\u201d. Saya juga sering mendengar cerita tentang berbagai kata yang digunakan oleh generasi pendahulu dari kedua orang tua saya pada masa lampau.<br>(Memang benar, terkadang perlu penerjemah juga saat berbicara dengan kakek dan nenek! (tertawa))<br>Ngomong-ngomong, dalam dialek Prefektur Aichi ada kata \u201cketta\u201d yang berarti sepeda. \u201cKetta\u201d (atau \u201cketta machine\u201d) adalah istilah dialek untuk sepeda yang umumnya digunakan di wilayah Aichi, Gifu, dan kawasan Tokai. Konon, istilah itu berasal dari gerakan \u201cmenendang\u201d (keru \/ ketta) tanah saat mengayuh pedal sepeda.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"700\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/435247_m.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3793\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Sampai hari ini saya menggunakan kata itu tanpa mengetahui artinya. (tertawa)<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/26775957_m-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3795\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Selain dialek, dalam percakapan saat makan kami juga sering membahas perbedaan budaya kuliner.<br>Bahkan hanya dari semangkuk sup miso saja, dapat timbul pembicaraan tentang perbedaan kaldu dan jenis miso yang digunakan, termasuk bahan-bahan isiannya.<br>Saat menyantap \u201cozoni (sup mochi khas Tahun Baru)\u201d pun, muncul perbincangan mulai dari perbedaan bumbu, isi, hingga bentuk mochi yang bulat atau persegi, dan lain sebagainya.<br>Setiap daerah memiliki perbedaan budaya masing-masing, dan semuanya memiliki keunikan serta cita rasa yang baik dengan caranya sendiri. Saya menyukai semuanya.<br>Kepada teman-teman di Indonesia, ketika berkunjung ke Jepang nanti, cobalah menggunakan dialek daerah setempat, dan jangan lupa juga untuk mencari berbagai bahan makanan maupun bumbu masakan khas daerahnya di supermarket.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Pada sebuah acara televisi pagi beberapa hari yang lalu, dibahas mengenai pelafalan kata \u201cwaka...","protected":false},"author":17,"featured_media":3794,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":"","_locale":"id_ID","_original_post":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=3792"},"categories":[3],"tags":[],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3964"}],"collection":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3964"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3964\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3965,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3964\/revisions\/3965"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3794"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3964"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3964"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3964"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}