{"id":3957,"date":"2026-07-13T09:30:00","date_gmt":"2026-07-13T00:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=3957"},"modified":"2026-06-03T13:09:04","modified_gmt":"2026-06-03T04:09:04","slug":"hamarikyu-gardens","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/streetofjapan.com\/id\/2026\/07\/13\/hamarikyu-gardens\/","title":{"rendered":"Menjelajahi Taman Hama-rikyu"},"content":{"rendered":"\n<p>Pada salah satu akhir pekan di bulan September saat udara mulai terasa sejuk khas musim gugur, saya berkunjung ke Taman Hama-rikyu.<br>Taman Hama-rikyu terletak di Chuo-ku, Tokyo, dan memiliki dua pintu masuk. Pertama dari Gerbang \u201cOtemon\u201d yang dapat dicapai dengan berjalan kaki selama 7 menit dari Stasiun Shiodome atau Stasiun Tsukiji-shijo (Toei Subway Oedo Line), serta Stasiun Shiodome (Yurikamome Line). Dari Stasiun Shimbashi (JR Yamanote Line, Keihin-Tohoku Line, Tokyo Metro Ginza Line, dan Toei Asakusa Line), dibutuhkan waktu sekitar 12 menit berjalan kaki.<br>Sementara itu, kalau melalui Gerbang Naka-no-gomon, maka lokasinya berjarak 5 menit dengan berjalan kaki dari Stasiun Shiodome (Toei Subway Oedo Line dan Yurikamome Line), atau 15 menit jalan kaki dari Stasiun Hamamatsucho (JR Yamanote Line dan Keihin-Tohoku Line). Harga tiket masuk untuk umum (per-orang) adalah 300 yen. Untuk lansia yang berusia 65 tahun ke atas dikenakan biaya 150 yen, sedangkan anak-anak usia sekolah dasar ke bawah serta siswa SMP yang tinggal atau bersekolah di Tokyo tidak dikenakan biaya (gratis).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"341\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/hama_2_w1200h400-1024x341.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3767\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Taman Hama-rikyu merupakan taman milik keluarga Shogun Tokugawa yang memiliki \u201cShio-iri-no-ike (Kolam Air Pasang)\u201d yang dialiri air laut, serta dua buah \u201cKamoba (tempat perburuan bebek)\u201d.<br>Pada tahun 1654 (era Sho-o tahun ke-3), Matsudaira Tsunashige, adik dari Shogun ke-4 Ietsuna, membangun sebuah vila bernama Kofu Hamayashiki di atas tanah reklamasi yang sebelumnya merupakan tempat perburuan elang milik keluarga Shogun Tokugawa. Setelah itu, ketika putra Tsunashige yaitu Tsunatoyo Ienobu menjadi Shogun ke-6, vila tersebut resmi menjadi kediaman terpisah keluarga Shogun dan berganti nama menjadi Hama goten.<br>Setelah Restorasi Meiji, taman ini menjadi istana terpisah untuk keluarga kekaisaran dan namanya diubah menjadi Hama-rikyu. Pada tahun 1945 (Showa 20), taman ini dihibahkan kepada Pemerintah Metropolitan Tokyo, dan pada April 1946 (Showa 21), tamannya resmi dibuka untuk umum dengan nama Taman Hama-rikyu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"341\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/hama_4_w1200h400-1024x341.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3769\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Saya berjalan melewati tepi parit Uchibori menuju ke arah kebun Kabokuen. Alasan saya berkunjung kali ini adalah karena ingin melihat bunga kosmos (bunga kenikir) berwarna kuning. Di area padang bunga Taman Hama-rikyu, terdapat sekitar 300.000 batang bunga kosmos, dan 150.000 di antaranya adalah jenis Kibana Cosmos yang berwarna kuning.<br>Sebenarnya, bunga Kibana Cosmos di sini tidak hanya berwarna kuning, tapi juga ada yang berwarna oranye muda dan tua, sehingga terlihat seperti hamparan bunga oranye yang luas. Biasanya waktu terbaik untuk menikmatinya adalah dari bulan Agustus hingga September, tetapi ternyata\u2026.. bunganya belum mekar!. Menurut staf di sana, sepertinya tahun ini cuaca yang terlalu panas menyebabkan masa mekarnya terlambat. Sehingga sepertinya, bunga kosmos berwarna pink dan putih yang biasanya mekar dari akhir September hingga Oktober, tampaknya akan ikut juga terlambat mekar pada tahun ini (tahun 2025).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"341\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/hama_3_w1200h400-1024x341.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3768\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Meskipun menyesali bunga kosmosnya belum mekar, tetapi saya tetap terpukau dengan kegagahan pohon pinus &#8220;Sanbyakunen-no-matsu (Pinus 300 Tahun)&#8221; yang sangat indah!<br>Konon, pohon pinus ini ditanam untuk memperingati jasa Shogun ke-6, Ienobu, saat Ia melakukan renovasi besar-besaran taman ini sekitar 300 tahun yang lalu. Batang dan dahan-dahannya yang besar terlihat sangat gagah dan keren, ya! Kita benar-benar bisa merasakan jejak sejarahnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"341\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/hama_5_w1200h400-1024x341.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3770\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Saat berjalan menyusuri taman yang rimbun dengan pepohonan hijau, kita akan menemukan \u201cHikibori (saluran air)\u201d di area perburuan bebek, serta \u201cShio-iri-no-ike (Kolam Air Pasang)\u201d.<br>\u201cShio-iri-no-ike\u201d adalah kolam yang dirancang untuk menikmati perubahan suasana kolam seiring pasang surutnya air laut dengan cara membuka dan menutup pintu air. Ini merupakan gaya penataan taman tepi laut yang khas, namun saat ini, Taman Hama-rikyu adalah satu-satunya taman yang air lautnya masih benar-benar mengalir keluar dan masuk secara alami. Sementara itu, Kamoba adalah area perburuan di mana bebek-bebek liar dipancing masuk ke dalam Hikibori (parit sempit) dengan menggunakan makanan dan bebek pemikat untuk kemudian ditangkap.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"341\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/hama_6_w1200h400-1024x341.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3771\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Terdapat sebuah jembatan yang seluruhnya terbuat dari kayu hinoki (cemara Jepang) bernama Jembatan Otsutai-bashi yang menghubungkan tepian kolam Shio-iri-no-ike dengan Pulau Konoshima dan Pulau Nakajima. Meskipun sekarang hanya tersisa sebagian saja, konon dulunya terdapat pergola bunga wisteria (fujidana) di sepanjang jembatan ini. Pasti terlihat sangat cantik sekali ya, jika seluruh jembatan dihiasi bunga-bunga wisteria yang bergantungan!<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"341\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/hama_7_w1200h400-1024x341.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3772\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Banyak dari \u201cOchaya (paviliun teh)\u201d, yaitu tempat di mana para Shogun terdahulu menjamu tamu penting sambil menikmati pemandangan atau beristirahat saat berburu elang sempat hangus terbakar akibat gempa besar Kanto maupun bencana perang. Namun, berdasarkan dokumen sejarah yang ada, paviliun-paviliun tersebut telah direkonstruksi kembali sesuai bentuk aslinya yang dimulai dari Nakajima-no-Ochaya pada 1983, kemudian Matsu-no-Ochaya pada 2010, selanjutnya Tsubame-no-Ochaya pada 2015, dan Taka-no-Ochaya pada 2018.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"341\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/hama_8_w1200h400-1024x341.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3773\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Kita dapat masuk ke bagian dalam Taka-no-Ochaya. Di dalamnya, dipajang \u201cSadeami\u201d, yaitu sejenis jaring genggam yang digunakan untuk menangkap bebek tanpa melukainya. Sementara itu, di Nakajima-no-Ochaya, pengunjung dapat menikmati set teh matcha dan \u201cwagashi (kue tradisional Jepang)\u201d dengan membayar biaya tambahan. Hari itu pun, terlihat antrean panjang orang-orang yang ingin mencobanya!<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"341\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/hama_9_w1200h400-1024x341.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3774\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Di dekat Gerbang Naka-no-gomon, terdapat sebuah patung perunggu yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Ini adalah patung \u201cUmashimade-no-Mikoto\u201d. Dalam kitab Nihon Shoki dan catatan sejarah lainnya, Ia dikenal sebagai dewa perang yang berjasa dalam ekspedisi militer ke arah timur bersama Kaisar Jimmu. Pada papan informasi di sana tertulis, \u201cPatung ini merupakan karya pemenang sayembara yang diadakan oleh Kementerian Angkatan Darat pada tahun 1894 (Meiji 27) untuk memperingati ulang tahun pernikahan perak Kaisar Meiji. Konon, patung ini dibuat oleh Akira Sano dan dicor oleh Chokichi Suzuki.\u201d<br>Taman Hama-rikyu sering disebut sebagai oasis di tengah kota. Jika ada kesempatan, mengapa tidak mencoba berkunjung ke sini? Sebuah taman penuh sejarah dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit\u2026 Bagaimana kalau meluangkan waktu untuk berjalan-jalan santai di ruang terbuka hijau yang rimbun ini, di mana Anda bisa merasakan sensasi suasana yang sedikit ajaib dan unik?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Pada salah satu akhir pekan di bulan September saat udara mulai terasa sejuk khas musim gugur,...","protected":false},"author":9,"featured_media":3766,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":"","_locale":"id_ID","_original_post":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=3765"},"categories":[20],"tags":[],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3957"}],"collection":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3957"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3957\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3958,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3957\/revisions\/3958"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3766"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3957"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3957"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3957"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}