{"id":3926,"date":"2026-06-08T09:30:00","date_gmt":"2026-06-08T00:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=3926"},"modified":"2026-06-08T09:35:00","modified_gmt":"2026-06-08T00:35:00","slug":"yosano-akiko-and-the-path-of-butterflies","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/streetofjapan.com\/id\/2026\/06\/08\/yosano-akiko-and-the-path-of-butterflies\/","title":{"rendered":"Akiko Yosano dan Jalan Lintasan kupu-kupu"},"content":{"rendered":"\n<p>Yosano Akiko adalah seorang penyair yang lahir pada era Meiji. Didalam salah satu karyanya terdapat puisi sebagai berikut:<br>\u201cPada payung kecil yang terangkat, hinggap kupu-kupu raja merah ditangan yang memegang ujung kimono, salju pun berjatuhan\u201d<br>Saya sendiri tidak begitu paham mengenai pusisi Waka, tapi merasakan gambaran pemandangan yang timbul dari bunyi kata-kata \u201cKasa (Payung)\u201d, \u201cChouchou (Kupu-kupu)\u201d, dan \u201cYuki (Salju)\u201d yang dihadirkan secara tersusun tersebut.<br>Dari kata \u2018Kozumi\u2019, kita dapat mengerti situasi bahwa tokoh utama puisi ini sedang memegang ujung bawah kimono. Meskipun kita terbayangkan sosok yang memakai kimono, ternyata kata ini menunjuk \u2018Geisha\u2019 atau \u2018Maiko\u2019 juga.<br>Dari puisi ini, Saya membayangkan sebuah adegan, yaitu kupu-kupu raja merah hinggap di payung kecil di dalam kondisi bersalju. Namun saat saya cari tahunya, ternyata ada juga perspektif bahwa motif payungnya itu kupu-kupu. Memang sepertinya ceritanya sedikit aneh kalau kupu-kupu terbang pada musim salju.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"900\" height=\"598\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/AdobeStock_956393591.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3689\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi Akiko Yosano bisa diartikan dalam berbagai makna oleh pembacanya, yang menjadi salah satu alasan popularitasnya. Mungkin banyak orang tahu judul karya utamanya \u2018Midare Gami (rambut yang terurai berantakan)\u2019.<br>Saya jadi teringat sebuah cerita yang berkaitan dengan kupu-kupu.<br>Katanya kupu-kupu memiliki \u2018Jalan kupu-kupu\u2019. Intinya jalan di mana kupu-kupu melintas.<br>Tentu saja manusia seperti kita tidak bisa melihatnya. Mungkin itu seperti jalan ujung untuk manusia. Saya masih ingat saya jadi terharu ketika baru tahu mengenai hal itu. Setelah itu, saya sering berpikir seperti \u2018Saya sedang menutup jalannya, nggak ya?\u2019 \u2018Apakah saya lagi mengganggu mereka kah?\u2019. Berbagai hal tersebut pasti bukanlah sesuatu yang penting bagi para kupu-kupu. Tetapi saya sangat senang karena saya merasa layar pandangan untuk melihat dunia ini jadi bertambah.<br>Kupu-kupu raja yang disebut di dalam puisi Akiko Yosano di awal, meskipun itu bukan menggambarkan kupu-kupu asli tetapi lebih merujuk pada motif payung. Jika kupu-kupu itu memang hinggap beristirahat di payung yang dipegang seorang wanita. Maka dengan membayangkan seperti itu, saya merasa suasananya menjadi lebih cerah dan gambaran pemandangannya berkembang di dalam otak saya.<br>Akhir-akhir ini, kesempatan membaca buku nya semakin banyak. Pada gaya puisi \u2018Waka\u2019, kata-kata puisi dan \u2018Haiku\u2019 tidak terlalu banyak, jadi ada ruang untuk membayangkan suasananya di situ. Meskipun tidak bisa menjelaskannya, tapi saya menyukai rasa yang aneh setelah membacanya.<br>Sangat direkomendasi untuk orang yang ingin membaca teks, tapi tidak punya cukup waktu, atau bagi yang ingin membaca sesuatu sebelum tidur.<br>\u203bAkiko Yosano\u2026Penyair yang lahir pada era Meiji (Tahun 1878). Karya utamanya \u2018Midare Gami\u2019, dan lain-lain.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/AdobeStock_752238096-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3688\"\/><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Yosano Akiko adalah seorang penyair yang lahir pada era Meiji. Didalam salah satu karyanya ter...","protected":false},"author":16,"featured_media":3687,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":"","_locale":"id_ID","_original_post":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=3686"},"categories":[5],"tags":[],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3926"}],"collection":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3926"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3926\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3979,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3926\/revisions\/3979"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3687"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3926"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3926"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3926"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}