{"id":3522,"date":"2025-12-17T09:30:00","date_gmt":"2025-12-17T00:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=3522"},"modified":"2025-09-18T15:52:20","modified_gmt":"2025-09-18T06:52:20","slug":"shichimi-chili-pepper","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/streetofjapan.com\/id\/2025\/12\/17\/shichimi-chili-pepper\/","title":{"rendered":"Bumbu yang Dicintai Masyarakat Jepang: \u201cShichimi Togarashi\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p>\u201cShichimi Togarashi\u201d adalah bumbu khas Jepang yang diciptakan pada pertengahan zaman Edo (tahun 1625), yang dibuat dengan mengombinasikan bahan-bahan herbal yang merupakan bahan obat tradisional Cina.<br>Asal-usulnya bermula di daerah Yagenbori, Nihonbashi, Edo (sekarang Tokyo). Saat Tokubei Karashiya generasi pertama yang terinspirasi oleh pengobatan Tiongkok, mengembangkan campuran tujuh jenis bahan termasuk cabai, dan menamainya \u201cNanairo Togarashi\u201d atau cabai tujuh warna.<br>Pada masa itu, bumbu ini sering dijual di depan kuil dan tempat ibadah karena diyakini memiliki khasiat pengobatan. Dan secara perlahan bumbunya mulai digunakan oleh masyarakat Edo sebagai pelengkap rasa dalam berbagai hidangan seperti soba, sehingga menjadi populer dan menyebar ke seluruh Jepang seiring perkembangan budaya kuliner Edo.<br>Dalam beberapa tahun terakhir, \u201cShichimi Togarashi\u201d telah menjadi bumbu yang digemari berbagai kalangan, baik di rumah tangga maupun restoran. Bumbunya tidak hanya cocok untuk masakan Jepang, bahkan saat ini juga tersedia varian bercita rasa herbal yang cocok untuk masakan Barat.<br>Tujuh bahan yang menjadi ciri khas \u201cShichimi Togarashi\u201d tidak memiliki definisi baku, tetapi secara umum terdiri atas cabai merah, lada Jepang (sansho), wijen hitam, biji rami (asa no mi \/ hemp seed), kulit jeruk kering (chinpi), daun shiso hijau, dan nori (rumput laut hijau).<br>Cita rasanya ditandai oleh keseimbangan antara rasa pedas dan aroma harumnya, yang dapat memperkaya rasa masakan Jepang. Selain itu, bahan-bahan seperti cabai, \u201csansho\u201d, dan \u201cchinpi\u201d juga telah lama dipercaya memiliki khasiat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-layout-1 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"682\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/2-1-682x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3298\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"684\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/3-1-684x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3299\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1067\" height=\"1601\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/4-682x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3300\"\/><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p>\u201cShichimi Togarashi\u201d biasanya tidak digunakan sebagai bumbu utama dalam memasak, melainkan ditambahkan di akhir proses memasak atau saat ingin mengubah cita rasa hidangannya.<br>Bumbu khas Jepang yang dikenal dengan sebutan \u201cShichimi Togarashi (Cabai Tujuh Rasa)\u201d atau \u201cNanairo Togarashi (Cabai Tujuh Warna)\u201d, telah melahirkan tiga merek terkenal yang dikenal sebagai \u201cTiga Besar Shichimi (San Dai Shichimi)\u201d, meskipun tidak diketahui secara pasti sejak kapan istilah ini mulai digunakan.<br>Berikut adalah ketiga produsen legendaris tersebut:<br><br><strong>\u2022 Tokyo &#8211; Asakusa [Yagenbori]<\/strong>\u3000<a href=\"https:\/\/yagenbori.jp\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"\">https:\/\/yagenbori.jp\/<\/a><br>Tujuh bahan versi Yagenbori terdiri dari: Cabai merah, cabai bakar, wijen hitam, \u201csansho (lada Jepang)\u201d, kulit jeruk kering (chinpi), biji poppy, dan biji \u201crami (asa no mi)\u201d.<br>Mereka menggunakan dua jenis cabai untuk menciptakan rasa pedas yang menyengat, dengan aroma khas dari \u201csansho\u201d dan wijen hitam.<br><br><strong>\u2022 Kyoto &#8211; Kiyomizu [Shichimiya Honpo]<\/strong>\u3000<a href=\"https:\/\/www.shichimiya.co.jp\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"\">https:\/\/www.shichimiya.co.jp\/<\/a><br>Komposisinya meliputi: Cabai merah, sansho, biji rami, wijen putih, wijen hitam, nori (rumput laut hijau), dan daun shiso hijau.<br>Selain cabai, semua bahannya dipilih karena aroma khasnya, sehingga menciptakan campuran yang sangat harum.<br><br><strong>\u2022 Shinshu &#8211; Kuil Zenkoji [Yawataya Isogoro]<\/strong>\u3000<a href=\"https:\/\/www.yawataya.co.jp\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"\">https:\/\/www.yawataya.co.jp\/<\/a><br>Tujuh bahannya terdiri dari: Cabai merah (untuk rasa pedas), sansho dan jahe (untuk pedas dan aroma), serta biji rami, wijen, kulit jeruk kering (chinpi), dan daun shiso (untuk cita rasa dan aroma).<br>Ciri khasnya adalah keseimbangan yang harmonis antara rasa pedas dan wangi rempahnya.<br>Ketiga produsen ini memiliki ciri khas masing-masing dan hingga kini tetap menjaga tradisi rasa serta kualitas \u201cShichimi Togarashi\u201d sebagai bagian dari warisan kuliner Jepang.<br><br>Selain ketiga produsen yang telah disebutkan di atas, di berbagai daerah di Jepang juga terdapat \u201cShichimi Togarashi\u201d versi lokal yang memanfaatkan bahan-bahan khas daerahnya masing-masing. Bahkan, beberapa restoran mengembangkan dan menjual \u201cShichimi Togarashi\u201d versi khusus yang disesuaikan dengan menu mereka, sehingga variasinya juga semakin beragam.<br>Tentu saja, di supermarket pun tersedia berbagai merek \u201cShichimi Togarashi\u201d. Bumbu ini juga bisa dengan mudah ditemukan di minimarket maupun \u201ctoko 100 yen\u201d (semua barang berharga 100 yen). Hal ini menunjukkan betapa dalamnya kecintaan masyarakat Jepang terhadap \u201cShichimi Togarashi\u201d.<br>Selain rasa, variasi wadah atau kemasannya juga menjadi daya tarik tersendiri yang menambah keseruan saat memilih bumbu ini.<br>Bagaimana jika anda membawanya pulang \u201cShichimi Togarashi\u201d khas Jepang sebagai oleh-oleh?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"\u201cShichimi Togarashi\u201d adalah bumbu khas Jepang yang diciptakan pada pertengahan zaman Edo (tahu...","protected":false},"author":19,"featured_media":3297,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":"","_locale":"id_ID","_original_post":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=3296"},"categories":[3],"tags":[],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3522"}],"collection":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3522"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3522\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3524,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3522\/revisions\/3524"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3297"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3522"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3522"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3522"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}