{"id":3132,"date":"2025-10-15T09:30:00","date_gmt":"2025-10-15T00:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=3132"},"modified":"2025-07-07T13:29:39","modified_gmt":"2025-07-07T04:29:39","slug":"i-want-to-eat-it-even-if-i-die-zoni","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/streetofjapan.com\/id\/2025\/10\/15\/i-want-to-eat-it-even-if-i-die-zoni\/","title":{"rendered":"Bersedia Meninggal demi Menikmatinya?? Soul food Jepang \u201cOzoni\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p>Di Jepang terdapat tradisi untuk menyantap hidangan tradisional Jepang yang disebut \u201cOzoni\u201d pada periode antara tanggal 1 Januari (Hari Tahun Baru) hingga 3 Januari meskipun saat ini musimnya telah berlalu cukup lama. \u201cOzoni\u201d telah menyebar luas di seluruh penjuru Jepang, dan telah dibuat dan digemari di setiap rumah masyarakat Jepang.<br><br>Pertama, mochi yang menjadi bahan utama dalam \u201cozoni\u201d terbagi menjadi dua jenis berdasarkan wilayahnya, yaitu \u201ckaku mochi\/mochi persegi\u201d dan \u201cmaru mochi\/mochi bundar\u201d. Mochi persegi banyak digunakan diwilayah Jepang bagian timur, sedangkan di Jepang bagian barat lebih banyak menggunakan mochi bundar. Pada zaman dahulu, mochi bundar adalah jenis yang utama, tetapi tampaknya pada zaman Edo lahir \u201cnoshimoch\/mochi persegi\u201d yang dibuat dengan cara memipihkan adonan lalu memotongnya. Selain itu, bagian menariknya adalah adanya \u201cozoni\u201d mochi nashi\/ tanpa mochi di beberapa daerah, yang sama sekali tidak menggunakan mochi.<br><br>Cara memasak mochi pun bervariasi, ada yang dipanggang dan ada juga yang direbus. Bahkan terdapat juga beberapa daerah yang menyajikan keduanya. Berikut adalah data survei nasional yang dilakukan oleh salah satu produsen dashi (kaldu sup) ternama:<br>\u2022 Mochi Persegi (Kakumochi): Dipanggang 43,8%, direbus 12,9%<br>\u2022 Mochi Bundar (Marumochi): Dipanggang 10,8%, direbus 32,5%<br>Menarik sekali untuk diperhatikan bagaimana data terkait metode dipanggang dan direbus tersebut nilainya saling berkebalikan antara mochi persegi dan mochi bundar.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-layout-1 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/f792bb3ac0cacd0acb55366339add372-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3071\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/9364b82709c267f35f4d386f67bf6b2d-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3070\"\/><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p>Bumbu kuah \u201cozoni\u201d secara garis besar terbagi menjadi dua jenis, yaitu: \u201csumashi\/kuah bening\u201d dan kuah miso (terutama miso putih). Pada zaman dahulu sepertinya \u201cozoni\u201d dinikmati dengan \u201ctaremiso\/ pasta miso kental seperti saus\u201d, kemudian pada era berikutnya, variasi \u201csumashi\/kuah bening\u201d yang menggunakan \u201cshoyu\u201d juga mulai muncul.<br>Untuk \u201cdashi\/kaldu dasar\u201dnya, campuran bahan \u201ckatsuobushi\u201d (serutan ikan cakalang kering), \u201ckombu\u201d (rumput laut), dan \u201cniboshi\u201d (ikan sarden kering kecil) digunakan secara luas di seluruh negeri. Bahan kaldu yang digunakan juga dapat berasal dari sumber lainnya yang beragam, tergantung dari daerahnya, seperti: \u201cyaki haze\/ikan gobi panggang\u201d, \u201ckai bashira\/kerang kampak\u201d, serutan ikan makarel atau \u201csababushi\u201d, \u201cago atau tabiuo\/ikan terbang\u201d, hingga \u201choshi ebi\/ udang kering\u201d.<br>Bahkan, terdapat juga daerah yang mengubah jenis bumbu kuahnya antara tanggal 1 dan 2 Januari.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-layout-2 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/e17eb065062ae19e3980e923ab647dae-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3073\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/fdf07031831f12a4ec98682e5c762c47-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3072\"\/><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p>Selain itu, setiap daerah juga menggunakan bahan isian yang bervariasi. Untuk hidangan laut, isiannya sangat beragam, mulai dari \u201csake\/ikan salmon\u201d dan \u201cburi\/sejenis ikan kuwe\u201d, hingga daging ikan paus, \u201ckuruma ebi\/udang harimau Jepang\u201d, ikan gobi (haze dan donko), udang besar yang dipanggang kering, \u201choya\/nanas laut\u201d, serta berbagai jenis kerang seperti asari, hamaguri, dan \u201ckaki\u201d (tiram).<br>Dalam hal ini, penggunaan daging lebih jarang ditemukan. Selain daging bebek (kamo) dan unggas liar (yamadori), penggunaan daging ayam baru dimulai sejak zaman Meiji sehingga tergolong variasi yang baru. Untuk sayuran, lobak (daikon) dan wortel digunakan secara umum di seluruh Jepang. Sementara itu, talas (satoimo) banyak digunakan di wilayah Kanto, Tokai, Kinki, Sanyo, dan Kyushu. Terdapat juga daerah yang menggunakan sayuran gunung (sansai) seperti: pakis (warabi) dan selada air Jepang (seri), serta bahan lain seperti nori (rumput laut kering), tahu, bubuk kedelai panggang (kinako), hingga \u201canmochi\/ mochi isi selai kacang merah\u201d.<br><br>Pada era tersebut, bahan-bahan yang digunakan dalam \u201cozoni\u201d diantaranya adalah \u201cmochi (kue beras)\u201d, abalon, teripang, lobak putih, sayuran hijau, \u201ckatsuobushi (ikan cakalang serut kering)\u201d, dan talas. Abalon melambangkan usia yang panjang dan kesehatan, sementara teripang melambangkan panen padi yang melimpah. Sehingga, bahan-bahan yang digunakan tersebut dipilih karena makna keberuntungannya.<br>Pada masa itu, \u201cozoni\u201d tidak hanya disantap pada saat Tahun Baru, tetapi juga merupakan salah satu hidangan jamuan yang disajikan oleh kalangan bangsawan dan samurai kelas atas untuk menjamu tamu pentingnya. Hidangan ini disiapkan sesuai dengan tata cara \u201chonzen ryouri\/ hidangan resmi tradisional Jepang\u201d, dan merupakan salah satu pelengkap dalam prosesi \u201cshiki sankon\u201d yang merupakan ritual meminum \u201csake\/minuman keras Jepang\u201d tiga tegukan sebanyak tiga kali yang juga digunakan dalam upacara pernikahan. Tradisi ini masih dilestarikan hingga saat ini, di mana \u201cozoni\u201d disantap bersama dengan \u201cotoso\u201d atau \u201csake\u201d khas Tahun Baru pada perayaan Tahun Baru.<br>Berdasarkan maknanya, \u201cozoni\u201d merupakan persembahan kepada \u201cToshigami sama\u201d yaitu dewa tahun baru yang dipercaya datang pada awal tahun. Setelah dipersembahkan, \u201cozoni\u201d kemudian disantap sebagai simbol menerima berkah dari dewa tersebut.<br>Tetapi sayangnya, setiap tahun selalu terjadi insiden tersedak yang disebabkan oleh mochi. Pada awal tahun ini pun, insiden banyak terjadi selama tiga hari pertama Tahun Baru. Pada hari pertama (tanggal 1 Januari) saja tercatat 67 kasus, dan total selama tiga hari tersebut terdapat 127 kasus kematian akibat tersedak mochi.<br>Meskipun merupakan hidangan yang memiliki risiko, ada beberapa restoran yang menyajikan \u201cozoni\u201d sepanjang tahun, tidak hanya pada saat Tahun Baru. Salah satunya adalah Ginza Mochifuji (<a href=\"https:\/\/www.ginza-mochifuji.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"\">https:\/\/www.ginza-mochifuji.com\/<\/a>).<br>Jika anda tertarik, dipersilahkan untuk melakukan reservasi dan mengunjungi tempat tersebut.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Di Jepang terdapat tradisi untuk menyantap hidangan tradisional Jepang yang disebut \u201cOzoni\u201d pa...","protected":false},"author":19,"featured_media":3074,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":"","_locale":"id_ID","_original_post":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=3069"},"categories":[3],"tags":[],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3132"}],"collection":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3132"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3132\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3135,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3132\/revisions\/3135"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3074"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3132"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3132"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3132"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}