{"id":2878,"date":"2025-09-19T09:30:00","date_gmt":"2025-09-19T00:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=2878"},"modified":"2025-06-09T18:06:38","modified_gmt":"2025-06-09T09:06:38","slug":"spring-equinox","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/streetofjapan.com\/id\/2025\/09\/19\/spring-equinox\/","title":{"rendered":"Acara Bulan Maret \u201cHaru no Higan\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p>Di Jepang terdapat acara \u201c\u6625\u306e\u304a\u5f7c\u5cb8 (Haru no Ohigan)\u201d yang diselenggarakan pada bulan Maret. \u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (Ohigan)\u201d adalah salah satu kata yang sering didengar tetapi sulit dijelaskan.<br>Oleh karena itu, jika orang Indonesia memahami tentang \u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (ohigan)\u201d yang masyarakat Jepang sendiri pun sulit menjelaskannya, pasti akan dihormati oleh orang Jepang.<br>Sekarang, saya mau berbagi bercerita tentang \u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (ohigan)\u201d yang ditelusuri sendiri.<br>\u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (ohigan)\u201d adalah acara tradisional Jepang yang diadakan dua kali setiap tahunnya, yaitu pada Musim Semi dan Musim Gugur. Ini bukan sekedar acara mengunjungi makam, tetapi berhubungan juga dengan kepercayaan agama Budha dan memiliki makna spiritual. Mungkin ada kesamaan dengan salah satu budaya Indonesia, jadi nikmati bacaan ini.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-layout-1 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:33.33%\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/AdobeStock_480527727-1024x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2875\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:66.66%\">\n<p>\u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (ohigan)\u201d dilaksanakan selama tujuh hari, termasuk tiga hari sebelum dan tiga hari sesudah hari ekuinoks (matahari tepat diatas garis khatulistiwa) Musim Semi dan Musim Gugur. Pada saat tersebut, banyak masyarakat Jepang berkunjung ke makam dan menyampaikan rasa terima kasih kepada orang leluhur mereka.<br>Mungkin, anda bertanya kenapa acara tersebut diadakan pada waktu yang ditetapkan tersebut. Hal tersebut karena berhubungan dengan posisi matahari. Hari Ekuinoks Musim Semi dan Musim Gugur adalah hari ketika periode waktu siang dan malam menjadi sama. Pada hari tersebut, matahari terbenam tepat di barat.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p>Penganut Budha percaya terdapat dunia yang disebut \u201cGokuraku Jyodo (surga atau tanah suci)\u201d di arah barat, yaitu tempat tujuan orang yang telah meninggal. Awal mulanya dari kebiasaaan orang-orang menyembah kepada matahari yang terbenam di arah barat dan membayangkan \u201cgokuraku jyodo\u201d yang sangat jauh diseberang sana.<br>Apakah di Indonesia juga ada upacara untuk menghormati para leluhur seperti acara \u201cSelamatan\u201d?. Dalam hal ini, \u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (ohigan)\u201d juga mengandung makna untuk \u201cmenghormati leluhur kita\u201d.<br>Ketika masyarakat Jepang melakukan \u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (ohigan)\u201d, mereka berkunjung ke makam dan menyampaikan rasa terima kasih kepada leluhur mereka.<br>Banyak upacara tradisional Jepang yang berkaitan dengan makanan khususnya. Seperti pada waktu \u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (ohigan)\u201d, orang Jepang memakan kue ketan manis seperti \u201cBotamochi\u201d atau \u201cOhagi\u201d.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"640\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/AdobeStock_324839670-1024x640.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2873\" style=\"width:840px;height:auto\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Sebenarnya, \u201cBotamochi\u201d adalah kue untuk hari ekuinoks Musim Semi, dan \u201cOhagi\u201d adalah kue untuk hari Ekuinoks Musim Gugur, namun keduanya hampir mirip. Perbedaannya adalah nama kuenya disebut \u201cBotamochi\u201d dari bunga \u201cBotan\u201d yang memekar pada Musim Semi dan \u201cOhagi\u201d dari bunga \u201cHagi\u201d yang memekar pada Musim Gugur. Selain itu, jenis pasta kacang merah \u201cBotamochi\u201d memiliki tekstur yang halus, Sedangkan pasta kacang merah \u201cOhagi\u201d memiliki tekstur biji kacangnya.<br>Mungkin Anda merasa heran kenapa orang Jepang memakan kacang merah pada \u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (ohigan)\u201d. Itu karena kacang merah dipercaya memiliki kekuatan. Konon, orang-orang percaya bahwa warna merah memiliki kekuatan mengusir hal yang buruk, sehingga mereka mulai memakan kacang merah untuk mengharapkan kesehatan sambil menjaga roh leluhur mereka.<br>Ada juga orang yang beranggapan bahwa arwah leluhur akan kembali selama \u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (ohigan)\u201d, sehingga mereka membersihkan rumah serta memberikan persembahan kepada para arwah leluhur tersebut.<br>\u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (ohigan)\u201d adalah acara yang unik di Jepang. Menurut saya, inti dari \u201cOhigan\u201d ini adalah menghargai leluhur dan membuat waktu yang khusus untuk kumpul keluarga. Mungkin event sejenis \u201cohigan\u201d juga berkaitan dengan budaya di Indonesia.<br>Orang Jepang terus menyampaikan perasaan mereka kepada leluhur sejak dahulu melalui kunjungan ke makam dan menyantap \u201cBotamochi\u201d pada hari Ekuinoks Musim Semi dan Musim Gugur.<br>Jika Anda berkesempatan untuk datang ke Jepang, rasakanlah suasana \u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 (ohigan)\u201d.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Di Jepang terdapat acara \u201c\u6625\u306e\u304a\u5f7c\u5cb8 (Haru no Ohigan)\u201d yang diselenggarakan pada bulan Maret. \u201c\u304a\u5f7c\u5cb8 ...","protected":false},"author":21,"featured_media":2874,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":"","_locale":"id_ID","_original_post":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=2872"},"categories":[5],"tags":[],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2878"}],"collection":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2878"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2878\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3022,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2878\/revisions\/3022"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2874"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}