{"id":2824,"date":"2025-07-30T09:30:00","date_gmt":"2025-07-30T00:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=2824"},"modified":"2025-05-12T12:32:01","modified_gmt":"2025-05-12T03:32:01","slug":"setsubun-sowing-beans","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/streetofjapan.com\/id\/2025\/07\/30\/setsubun-sowing-beans\/","title":{"rendered":"Memaknai \u201cSetsubun\u201d: Ritual Melempar Kacang dan Mengusir \u201cOni\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p>Jepang memiliki empat musim yaitu musim semi, panas, gugur, dan dingin. Pada setiap peralihan musimnya ditandai dengan suatu hari yang disebut \u201csetsubun\u201d yaitu sehari sebelum \u201crisshun\/awal musim semi\u201d, \u201crikka\/awal musim panas\u201d, \u201crisshu\/awal musim gugur\u201d, dan \u201crittou\/awal musim dingin\u201d. Tetapi, sejak zaman Edo (tahun 1603-1868) sampai dengan sekarang, hanya \u201csetsubun\u201d sebelum awal musim semi yang masih dirayakan secara luas di Jepang. Selama ini, saya mengira \u201csetsubun\u201d selalu jatuh pada 3 Februari. Tetapi tahun ini ternyata tanggalnya maju sehari menjadi 2 Februari. sayapun bertanya-tanya kenapa \u201csetsubun\u201d tahun ini jatuh pada Tanggal 2 Februari?. Setelah mencari berbagai informasi, ternyata hal ini berkaitan dengan penyesuaian astronomis dari tahun kabisat (penyesuaian kalender akibat revolusi Bumi mengelilingi Matahari). Untuk pembaca yang masih penasaran, silakan menggali lebih dalam informasinya. Saya pribadi sudah mencoba memahaminya, tetapi penjelasannya terlalu teknis untuk dibahas pada tulisan ini. Yang jelas, awal musim semi pada tahun ini jatuh pada Tanggal 3 Februari sehingga \u201csetsubun\u201dnya menjadi Tanggal 2 Februari 2025. Di seluruh Jepang, \u201csetsubun\u201d dirayakan dengan beragam acara, tapi yang paling ikonik adalah \u201cmame maki\/ melempar kacang\u201d. Ritual ini berasal dari kepercayaan bahwa \u201coni\/setan\u201d yang merupakan simbolisasi wabah penyakit, bencana, dan hal buruk lainnya, diusir dengan kacang kedelai sebagai lambang pemurnian.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-layout-1 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"428\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/1262795_s.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2749\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<p>Bertahun-tahun lalu saat anak-anak saya masih kecil, kami merayakan \u201csetsubun\u201d di rumah dengan cara klasik, yaitu: saya (sebagai ayah) memakai topeng \u201coni\u201d dan menjadi sasaran lemparan kacang anak-anak, sambil mereka berteriak, \u201coni wa soto! fuku wa uchi!\u201d (Setan pergi keluar! Keberuntungan masuk rumah!). Tetapi yang paling berkesan justru saat anak bungsu saya masih di \u201choikuen \/ tempat penitipan anak\u201d. Di sana, \u201cmame maki\u201d adalah acara satu dari tiga acara besar di \u201choikuen\u201d. Beberapa pengasuh berubah menjadi \u201coni\u201d dengan kostum yang mengerikan, bahkan mirip \u201cnamahage\u201d dari Akita, yang meneror anak-anak sambil berlarian. Situasi yang membuat anak-anak menjerit ketakutan, ada yang menangis, ada yang kabur bersembunyi\u2026 itu merupakan kenangan yang tak terlupakan! Saya penasaran, apakah sekarangpun tradisi itu masih berlangsung di \u201choikuen\u201d tersebut?<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-layout-2 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<p>Ternyata, sorakan saat \u201cmame maki\u201d berbeda-beda tergantung daerahnya! Yang paling umum adalah \u201cFuku wa uchi! Oni wa soto!\u201d (Keberuntungan masuk rumah! Setan keluar rumah!).<br>Tapi beberapa daerah punya versi unik masing-masing, seperti:<br>\u30fbKota Fujioka, Gunma (Daerah Onishi): \u201cFuku wa uchi, oni wa uchi!\u201d (Keberuntungan masuk rumah!, setan juga masuk rumah!)<br>\u30fbKota Murata, Miyagi: &#8220;Oni wa uchi, fuku mo uchi!&#8221; (&#8220;Setan masuk rumah, keberuntungan juga masuk rumah!)<br>\u30fbBeberapa daerah di Tohoku: \u201cFuku wa uchi, oni wa soto, oni no me dama buttsubuse!\u201d (Keberuntungan masuk rumah, setan keluar rumah, hancurkan bola mata setan!)<\/p>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"427\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/31784840_s.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2752\"\/><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p>Kacang apa yang digunakan untuk \u201cmame maki\u201d?<br>Dahulu waktu saya kecil, kami menggunakan kedelai panggang (iri-daizu) yang dibeli dalam kemasan besar dan ditabur begitu saja. Tetapi seiring dengan peralihan zaman, sekarang variasinya banyak sekali, seperti menggunakan kacang tanah yang lebih mudah dipungut setelah dilempar, kacang kedelai dalam kemasan kecil supaya tidak berantakan, atau menggunakan snack kacang, dan lain-lain.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-layout-3 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:40%\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"480\" height=\"480\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/FDACC568-605E-4510-9550-493D7321F08D.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2753\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:60%\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG_0724-1024x768.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2754\"\/><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p>Cerita yang didengar dari berita.<br>Ada laporan berita lucu tentang keluarga dengan Watanabe yang tidak melakukan \u201cmame maki\u201d. Beberapa orang dengan marga Watanabe yang diwawancarai mengaku bahwa mereka memang tidak pernah melakukan ritual \u201cmame maki\u201d.<br>Konon, pada zaman Heian, ada seorang samurai bernama \u201cWatanabe No Tsuna\u201d yang terkenal sebagai pembasmi \u201coni\u201d. Sehingga, \u201coni\u201dnya sudah kapok mendekati keluarga Watanabe, jadi mereka tidak perlu lagi mengusir \u201coni\u201d dengan kacang. Ada juga yang bilang bahwa \u201cWatanabe No Tsuna\u201d adalah inspirasi di balik legenda \u201cMomotaro\u201d.<br>Kebetulan di kantor ada rekan bermarga Watanabe, saya mau mencoba mengkonfirmasi apakah memang Ia tidak pernah melaksanakan \u201cmame maki\u201d seumur hidupnya?<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-layout-4 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"359\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/31684000_s.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2751\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<p>Tambahan\u2026.apakah \u201cEhomaki\u201d?<br>Belakangan ini, sepertinya \u201cEhomaki\u201d lebih sering dibicarakan daripada tradisi \u201cmame maki\u201d saat \u201cSetsubun\u201d. Awalnya, kebiasaan ini berasal dari kepercayaan Tiongkok kuno, di mana ketika \u201csetsubun\u201d, orang akan menghadap ke arah \u201cehou\u201d (arah keberuntungan tahun itu) sambil menyantap makanan tertentu untuk mengusir kesialan dan menarik keberuntungan. Tradisi makan \u201cEhomaki\u201d sendiri baru populer di Jepang sejak zaman Edo. Walaupun saat masih kecil, saya sama sekali tidak mengetahui tentang \u201cEhomaki\u201d, bahkan belum pernah mencobanya. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, \u201cEhomaki\u201d selalu muncul di meja makan keluarga saya saat Setsubun.<br>Apakah hanya saya yang tidak suka dengan tradisi makan \u201cEhomaki\u201d di \u201csetsubun\u201d ini?<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Jepang memiliki empat musim yaitu musim semi, panas, gugur, dan dingin. Pada setiap peralihan ...","protected":false},"author":14,"featured_media":2750,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":"","_locale":"id_ID","_original_post":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=2748"},"categories":[5],"tags":[],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2824"}],"collection":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2824"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2824\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2825,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2824\/revisions\/2825"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2750"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2824"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2824"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2824"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}