{"id":2674,"date":"2025-06-16T09:30:00","date_gmt":"2025-06-16T00:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=2674"},"modified":"2025-03-31T17:58:55","modified_gmt":"2025-03-31T08:58:55","slug":"pickled-plums","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/streetofjapan.com\/id\/2025\/06\/16\/pickled-plums\/","title":{"rendered":"\u201cUmeboshi\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p>Buah Plum dari pohon plum sangat akrab di telinga masyarakat Jepang, dan populer sebagai berbagai macam makanan olahan seperti \u201cumeshu\u201d (minuman keras terbuat dari plum), selai plum, dan lain-lain. \u201cUmeboshi\/acar plum\u201d adalah salah satu makanan olahan plum yang dibuat dengan cara mengasinkan buah plum dengan garam lalu menjemurnya di bawah sinar matahari. Ini merupakan makanan olahan yang sangat familiar di kalangan masyarakat Jepang sehingga dapat dikatakan bahwa \u201cumeboshi\u201d tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Seperti menjadikan \u201cumeboshi\u201d sebagai isi \u201conigiri\/nasi kepal Jepang\u201d, lauk-pauk dalam kotak bekal makan, atau dimakan dengan \u201cochazuke\/ nasi yang ditambah air teh\u201d.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/umenoki-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2599\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai informasi tambahan, di Jepang terdapat \u201cbento\/kotak nasi\u201d yang hanya berisi nasi dan acar plum di tengahnya disebut \u201cHinomaru bento\u201d, karena bentuknya yang menyerupai bendera Jepang yaitu lingkaran merah (dari \u201cumeboshi\u201d) dengan latar belakang nasi putih.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/hinomaru-bentou-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2596\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam beberapa tahun terakhir, semakin sedikit orang yang membuat \u201cumeboshi\u201d di rumah karena proses pengeringan dengan menggunakan sinar matahari membutuhkan waktu dan tenaga. Sekarang kebanyakan masyarakat Jepang lebih memilih untuk membeli produk yang tersedia secara komersial di supermarket.<br>\u201cUmeboshi\u201d yang dibuat dengan metode tradisional rasanya sangat asam. Sehingga untuk yang tidak menyukai rasa asam, biasanya \u201cumeboshi\u201d diberi tambahan madu agar lebih manis dan mudah disantap. Saya sendiri lebih senang dengan \u201cumeboshi\u201d asam yang biasa dibuat nenek, yang sangat asin sehingga membuat wajah kita dapat berubah saat menggigitnya. Pengaruh dari kandungan asam sitrat\/ citric acid adalah yang menyebabkan rasa \u201cumeboshi\u201d menjadi asam. Komponen yang sama yang ditemukan juga dalam lemon dan grapefruit.<br>\u201cUmeboshi\u201d memiliki sejarah yang sangat panjang, dan awal mula diperkenalkan ke Jepang dari negara asalnya Tiongkok pada periode Nara (sekitar tahun 710 hingga 794 M).<br>Konon selama \u201csengoku jidai\/periode perang saudara\u201d, para samurai membawa \u201cumeboshi\u201d sebagai makanan portabel selama pertempuran karena dapat disimpan dalam waktu yang lama dan kaya dengan nutrisi.<br><br>Umeboshi juga dikatakan memiliki berbagai efek yang baik untuk kesehatan, seperti: meningkatkan nafsu makan, memulihkan kelelahan, melancarkan sirkulasi darah, dan mengatur fungsi usus, dan lain-lain. Sehingga pada saat sedang tidak enak badan dan tidak nafsu makan, seperti ketika masuk angin, banyak orang Jepang yang menyantap hidangan penutupnya dengan memakan \u201cokayu\/bubur\u201d (nasi yang dimasak dengan banyak air agar empuk) dan \u201cumeboshi\u201d.<br>Di hotel Jepang, \u201cumeboshi\u201d mungkin akan menjadi salah satu menu jika sarapannya bergaya prasmanan. Jadi jika ada kesempatan, silakan mencobanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/umenohana-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2598\"\/><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Buah Plum dari pohon plum sangat akrab di telinga masyarakat Jepang, dan populer sebagai berba...","protected":false},"author":12,"featured_media":2597,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":"","_locale":"id_ID","_original_post":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=2595"},"categories":[3],"tags":[],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2674"}],"collection":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2674"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2674\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2676,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2674\/revisions\/2676"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2597"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2674"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2674"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2674"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}