{"id":2520,"date":"2025-03-28T09:30:00","date_gmt":"2025-03-28T00:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=2520"},"modified":"2025-03-03T15:04:20","modified_gmt":"2025-03-03T06:04:20","slug":"about-shichi-go-san","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/streetofjapan.com\/id\/2025\/03\/28\/about-shichi-go-san\/","title":{"rendered":"Budaya Tradisional Jepang: \u201cShichigosan\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p>\u201cShichigosan (7,5,3)\u201d adalah budaya tradisional Jepang yang merayakan pertumbuhan anak-anak. Anak-anak berusia 7, 5, dan 3 tahun dengan mengunjungi kuil pada tanggal 15 November untuk berdoa supaya dapat tumbuh dengan sehat. Konon tradisi ini sudah menjadi kebiasaan sejak zaman Heian (794-1180 M) dan memiliki sejarah yang panjang dengan berbagai teori tentang \u201cshichigosan\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">\u25cf Awal Mula dan Sejarah \u201cShichigosan<\/h2>\n\n\n\n<p>Berbagai teori membahas asal usul \u201cshichigosan\u201d, namun konon tradisi ini merupakan bagian dari ritual pertumbuhan yang dilaksanakan oleh kalangan bangsawan dan samurai pada periode Heian. Di masa tersebut, teknologi medis belum berkembang seperti saat ini dan kebersihannya juga buruk, sehingga sulit bagi anak-anak untuk tumbuh dengan aman. Angka kematian anak pada usia hingga tujuh tahun sangat tinggi, dan sudah menjadi kebiasaan untuk bersyukur kepada Tuhan dan senantiasa berdoa untuk keselamatan mereka di setiap tahap pertumbuhannya. Konon tradisi tersebut itu akhirnya menyebar di kalangan samurai dan pedagang selama zaman Edo sebagai prototipe \u201cshicigosan\u201d saat ini. Banyak teori juga yang menyebutkan alasan penetapan Tanggal 15 November sebagai Hari Shichigosan. Konon karena waktu tersebut bertepatan dengan waktu [Kami mukae] yaitu saat orang-orang mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan di akhir masa panen.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">\u25cf Makna Berdasarkan Usia<\/h2>\n\n\n\n<p>\u201cShichigosan\u201d telah berkembang secara unik dengan berbagai budaya yang berbeda tergantung pada daerahnya. Ritualnya terdapat tiga kegiatan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\u30fbTiga tahun (Kamioki no gi)<\/h3>\n\n\n\n<p>Pada periode Heian terdapat kebiasaan bagi anak laki-laki dan perempuan untuk mencukur kepala mereka pada hari ketujuh setelah lahir, kemudian sang anak dibesarnya dengan kepala gundul sampai mereka berusia sekitar tiga tahun.<br>Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kebersihan kepala sianak yang diyakini akan mencegah penyakit dan mendorong pertumbuhan rambut sehat di kemudian hari. Selanjutnya, anak berusia 3 tahun akan mulai memanjangkan rambutnya. Ini dikenal dengan \u201cKamioki-no-Gi\u201d, yang juga merupakan upacara untuk merayakan usia seorang anak telah menginjak 3 tahun yang tumbuh dengan lancar dan sehat untuk menumbuhkan rambutnya.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\u30fb5 tahun (Hakamagi no gi)<\/h3>\n\n\n\n<p>Selama periode Heian, ketika anak-anak berusia antara 5 dan 7 tahun, mereka mengadakan \u201cHakamagi no gi\u201d di mana mereka pertama kali memakai [hakama] yaitu semacam pakaian formal pada masa itu.<br>Konon melalui ritual yang dikenal juga dengan sebutan [chakko], anak laki-laki bergabung dengan barisan anak laki-laki dan mulai mengenakan \u201chaori-hakama\/ atasan dan bawahan kimono\u201d.<br>Pada saat ini pun, anak laki-laki yang berusia lima tahun mengenakan \u201chakama atau haori\u201d dan mengunjungi kuil untuk merayakan pertumbuhan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\u30fb7 tahun (Obitoki no gi)<\/h3>\n\n\n\n<p>Saat anak perempuan menginjak usia tujuh tahun, mereka mulai mengenakan kimono lengkap dengan ikat pinggang obi bukan lagi kimono yang bertali.<br>Ini disebut \u201cobitoki no gi\u201d yang melambangkan pertumbuhan serta menuju langkah pertama sebagai seorang wanita.<br>Sekarang pun, anak perempuan berusia tujuh tahun biasanya mengenakan kimono cantik lengkap dengan obinya saat mengunjungi kuil untuk merayakan pertumbuhan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"695\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/202410_2-1024x695.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2259\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">\u25cf adat istiadat \u201cShichigosan\u201d<\/h2>\n\n\n\n<p>Dalam ritual \u201cShichigosan\u201d, para orang tua dan anaknya mengunjungi kuil untuk mengungkapkan rasa syukur mereka atas pertumbuhan anak mereka.<br>Secara umum, ini merupakan kebiasaan untuk mengunjungi kuil terdekat tempat bersemayamnya dewa (Ujigami sama) yang melindungi tanah.<br>Setelah mengunjungi kuil, biasanya melakukan foto keluarga dan mengadakan pesta makan malam.<br>Selain itu, [chitose ame] wajib disediakan untuk merayakan \u201cshichigosan\u201d.<br>\u201cChitose ame\/ permen chitose\u201d memiliki bentuk memanjang dan dianggap sebagai jimat keberuntungan untuk umur panjang dan kesehatan.<br>Pembungkus permennya dihias dengan binatang-binatang baik seperti burung bangau, kura-kura, dan lain-lain yang juga melambangkan doa untuk kesehatan dan umur panjang anak tersebut.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"694\" src=\"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/202410_3-1024x694.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2260\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">\u25cf Cara merayakan Shichigosan di zaman modern<\/h2>\n\n\n\n<p>Sekarang terdapat berbagai cara dalam melaksanakan ritual \u201cshichigosan\u201d untuk menghormati tradisi leluhur yang telah disesuaikan dengan gaya hidup modern.<br>Pada umumnya yang dilakukan masyarakat Jepang saat ini adalah menyewa kimono dan mengambil foto kenang-kenangan di studio foto.<br>Banyak kuil dan studio foto yang mempersiapkan tempatnya dengan perencanaan yang disesuaikan dengan tradisi \u201cshichigosan\u201d, sehingga memudahkan kita untuk menciptakan kenangan bersama keluarga.<br>Jika tanggal 15 November jatuh pada hari kerja, maka biasanya kebanyakan keluarga Jepang akan merayakannya pada hari Sabtu, Minggu, atau hari libur sebelum atau setelah tanggal 15 November.<br>Banyak juga orang yang mengunjungi kuil ini sejak awal yaitu dari pertengahan Oktober hingga awal November untuk menghindari keramaian.<br>Dibandingkan dengan pakem ritual pada beberapa dekade lalu, pelaksanaan saat ini terdapat lebih banyak kebebasan mengenai waktu dan usia \u201cshichigosan\u201d. Sehingga tidak ada kendala dalam waktu fotografi dan ibadah karena dapat dirubah secara fleksibel agar sesuai dengan waktu luang setiap keluarganya.<br>Selain itu, pada awalnya perayaan usia 3 dan 7 tahun adalah untuk anak perempuan, sedangkan anak laki-laki pada usia 3 dan 5 tahun (di beberapa daerah, \u201cshichigosan\u201d hanya dirayakan untuk anak berusia 5 tahun). Akhir-akhir ini, semakin banyak orang yang merayakannya di segala usia tanpa memandang jenis kelamin. Ada juga yang melaksanakan \u201cshichigosan\u201d untuk anak perempuan berusia 5 tahun dan anak laki-laki berusia 7 tahun yang disesuaikan dengan usia saudara mereka.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">\u25cf Penutup<\/h2>\n\n\n\n<p>Shichi-Go-San adalah tradisi penting yang merayakan pertumbuhan sehat anak-anak.<br>Tradisi ini telah ada sejak zaman Heian yang diwariskan secar turun temurun dari orang tua ke anaknya selama berabad-abad. \u201cShichigosan\u201d ini merupakan kesempatan penting untuk mempererat ikatan keluarga.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"\u201cShichigosan (7,5,3)\u201d adalah budaya tradisional Jepang yang merayakan pertumbuhan anak-anak. A...","protected":false},"author":6,"featured_media":2258,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":"","_locale":"id_ID","_original_post":"https:\/\/streetofjapan.com\/?p=2257"},"categories":[5],"tags":[],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2520"}],"collection":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2520"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2520\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2521,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2520\/revisions\/2521"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2520"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2520"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/streetofjapan.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2520"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}